Cerita internship: TERNYATA…

“Ketika semasa koas merasa 24 jam itu tidak cukup untuk 1 hari, maka ketika jadi dokter internship, ternyata 24 jam itu terlalu berlebihan untuk menjadi 1 hari.”

Ternyata saya baru dua bulan di maumere. TERNYATA! Berarti masih ada 10 bulan lagi yang harus saya habiskan di tempat ini. Oh oh oh oh tidak..  Saya sudah dirundung bosan tinggal disini. Bosan karena kota ini terlalu sepi. Bosan karena tidak ada hiburan layaknya di kota besar. Bosan karena tidak ada junkfood disini. Bosan yang membuat saya semakin malas, termasuk malas menulis. Bosan karena jarak kita semakin jauh.

So, what have i done within past 2 months? Saya mau cerita dari awal bulan di kota ini ya. Di satu minggu pertama, kami masih dalam tahap orientasi, sehingga belum terhitung sebagai masa internship. Di tahap orientasi, standar lah ya, belajar tentang seluk beluk rumah sakit, belajar SOP dan alur-alur rumah sakit. Pulang ke rumah kos yang jaraknya hanya selemparan kolor sekitar jam 12 siang. Lalu diisi dengan agenda memasak, mencuci, mengepel, menyetrika pakaian, lalu leyeh-leyeh. 3 hari pertama masih adaptasi dengan tempat, logat bicara, dan budaya disini. Mumpung belum pada terpisah-pisah, kami bersepuluh memutuskan untuk berwisata ke sekitar Maumere.

Destinasi wisata pertama adalah patung Bunda Maria Segala Bangsa di bukit Ni Lo. Sekitar 2O km dari kota maumere. Jalan agak berkelok, tapi belum seberapa kalau dibanding perjalanan ke kelimutu. Meskipun terbilang di luar kota maumere, untuk menuju tempat ini cukup membutuhkan waktu 30 menit sekali jalan. Patung bunda maria yang menengadahkan tangan ini berada di sebuah puncak bukit di sisi selatan kota maumere. Patungnya saja bisa terlihat dari kos-kosan kalau langit sedang cerah-cerahnya ditambah sinar matahari yang suka beranak lima.

Di weekend minggu pertama, kami memutuskan untuk ke gunung kelimutu, melihat danau tiga warna. Kami berangkat sabtu sore dengan mobil sewaan. Mampir sebentar ke desa sikka. Disana ada sebuah gereja yang konon merupakan gereja pertama di flores yang dibangun oleh bangsa portugis. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke moni untuk bermalam disana. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan indah. Saya sangat suka relief alam di pulau flores. Sungguh indah! Perjalanan menuju moni berhasil mengocok perut. Meeen.. Semua jalannya seperti irung petruk, berkelok kelok.
Kami bermalam di sebuah homestay, milik pak Jhon, lalu pagi harinya kami berburu sunrise di kelimutu. Ah, sungguh indah pemandangan kelimutu ini. Bisa-bisanya Indonesia memiliki keajaiban alam seperti ini. Danau dengan tiga warna yang berbeda, dan bisa berubah warna secara berkala. (Detail ceritanya akan saya tulis dalam halaman lain. Kapan? Tergantung mood. *nyengir*)

Kisah wisata alam lainnya adalah kunjungan ke pantai koka.  So far pantai ini yang paling bagus dibandingkan pantai yang pernah saya lihat sebelumnya (saya baru pernah lihat pantai utaranya maumere sih) Letaknya ada di daerah Paga, bagian selatan kabupaten Sikka. perjalanan ke paga ditempuh sekitar 1,5 jam dari maumere. Untuk menuju pantai ini, kami harus berjalan selama 30 menit dari jalan besar di pinggir jalan.  Jangan membayangkan keadaan jalan teraspal mulus. Jauh dari itu. But it is worth! Setelah berjalan sekitar 2 km, kami disuguhi pantai perawan. Pasir putih. Sepi. Hanya ada kami bersepuluh. Literally Virgin private beach! Aaaah, nikmatnya disini. Cukup duduk, diam, dan mendengarkan deburan ombak. Tentu yang lainnya ada yang mandi pantai (istilah orang sini untuk berenang di pantai).

Setelah cerita wisata yang menyenangkan, minggu berikutnya kami sudah menjalani bagian masing-masing. Ada yang di IGD, Bangsal, dan Puskesmas. 4 bulan pertama saya kebagian di puskesmas. Hari pertama, kedua, ketiga, sebulan, dua bulan, lalu saya bosan. Kehidupan puskesmas ya begini-begini saja. Sebenarnya saya bukan bosan dengan puskesmasnya. Saya bosan dengan siklus hidup disini yang monoton. Jam 8-12 di puskesmas. Cuma 4 jam loh saudara-saudara. Tapi kalau lagi gak ada kerjaan rasanya waktu berjalan sangat lambat. Lebih lambat dari siput lagi lomba lari. Setelah jam 12 kami pulang ke rumah. Melakukan aktivitas rumahan, yaitu masak, cuci, nyetrika, kadang nyapu dan ngepel. Malam hari masak lagi untuk makan malam. itu pun biasanya jam 8 malam sudah selesai semua. kemudian bingung mau ngapain lagi. Semua dikerjakan dengan ritme yang agak lambat, bahkan tidak jarang kami menumpuk setrikaan untuk esok hari biar besok ada kerjaan setelah pulang kerja.

Disini tidak ada hiburan. Ah. Stress sekali tidak ada hiburan. Satu-satunya hiburan dalam kota adalah makan. Itupun bukan sesuatu yang wah. Dalam sebulan pertama saya sudah mencoba hampir semua resto yang katanya makanannya enak. Mulai dari bakso terenak, gado-gado paling maknyus, rumah makan padang, siomay, chinesse food, dan seafood terlezat. lezat untuk ukuran kota ini. Ya jangan dibandingkan juga dengan makanan di tanah jawa sana, kecuali ikan di sini yang masih fresh dan baru sekali mati. Ini jokes orang-orang disini yang bilang: ikan disini masih fresh dan sekali mati, kalau yang dikirim ke jawa pasti sudah berkali-kali mati. hmm.. Yang belum saya coba berarti karena harga makanan di resto itu terlalu mahal.

For your information, jangan membayangkan disini ada mall, fast food restaurant, sejenis hypermart ataupun bioskop. Mall disini lebih seperti toko pakaian, namanya “Barata”. Pakaiannya cukup lengkap gedungnya pun juga besar. Semacam Ramayana atau Robbinson. Akan tetapi, orang maumere lebih suka beli baju di pasar RB a.k.a. Rombengan yang terletak di pasar Alok dan pasar depan Polres. Ini seperti pasar senen di jakarta. Menjual berbagai baju bermerk dan tidak bermerk yang tidak lolos quality control yang dibawa dari Singapura. Cukup mengeluarkan uang 20ribu untuk mendapat satu buah kemeja lengan panjang bermerk ternama. Pasarnya cukup besar, tapi padat dengan baju yang tentu berbau apek. Saya pernah sekali kesana untuk cari bedcover. Buseeet, cuma bersin-bersin doang. Akhirnya saya dapat bedcover yang tampak baru, seharga 85ribu. Tinggal dicuci beberapa kali dengan tambahan pelembut dan pewangi sebanyak mungkin. Lumayan lah ya…

Semua orang sudah bilang, di maumere ini orang menabung untuk bikin pesta. Biasanya mereka bikin pesta untuk merayakan sesuatu, misalnya terima komuni pertama, kelulusan anak, ulangtahun, dan pesta pergantian tahun. Pernah suatu ketika kami diajak untuk menghadiri pesta perayaan kelulusan seorang rekan pemilik kos kami. Siapa sih yang mau menolak makan gratis? apalagi pasti ada banyak babi bertebaran. Nomnomnom. Kami datang ke pesta syukuran tersebut, diawali dengan ibadat sabda yang dipimpin seorang pastor, lalu dilanjutkan makan-makan. Kami pikir udah selesai dong acaranya, karena saat sesi makan-makan itu sudah jam 10 malam. Kemudian tiba-tiba ada MC yang mengatakan: acara akan dimulai. Jengjengjeng! Mulailah dengan acara karaoke dan menyanyi bersama. Tak lama kemudian musik berganti dengan lagu-lagu sejenis poco-poco diikuti dengan ajakan menari dari beberapa orang.

Ternyata… Beginilah pesta orang maumere. Menari tak kenal waktu. Jadi disini ada beberapa lagu yang memiliki pola tariannya sendiri-sendiri. Di tiap kabupaten flores punya lagu sendiri dan punya tariannya sendiri. Langkah tariannya sejenis poco-poco. Orang maumere memang pandai berdansa dan menyanyi. Saya terkagum-kagum pada om dan tante yang bisa berdansa berpasangan tanpa injak-injakan kaki. Ups, saya lupa. Tidak hanya menari dan menyanyi, pesta orang maumere selalu dilengkapi dengan moke. Moke itu minuman beralkohol-nya maumere. Moke mempererat persaudaraan orang-orang maumere. Yang mungkin juga bisa jadi baku hantam kalau minum moke terlalu banyak. Dari anak-anak sampai om tante semua ikut menari. Tentu selera lagunya berbeda. Kalau lagu kedaerahan itu milik orang tua, lagu yang agak reggae, hiphop, RnB itu punya anak muda. Mereka ngedance disitu juga. Ibarat kata, bokap nyokap ngedance, anaknya pun ikut ngedance. Semuanya menari. Menari dalam senang! Bahkan sampai jam 1 malam pun, si empunya rumah berkata “ayo sekarang gilirannya anak-anak muda untuk dugem”. Disini menari dan minum alkohol telah menjadi tradisi, bukan sesuatu yang memalukan ataupun perlu ditutup-tutupi karena sejak kecil pun anak-anak sudah dikenalkan dengan dunia pesta. Makanya, tidak perlu bikin kafe ataupun diskotik, karena cukup punya modal playlist lagu yang banyak, ruangan, moke atau bir bintang, dan speaker, sudah cukup untuk mengadakan sebuah pesta. Ooooh…Ternyata begitu…

Natal. Ternyata tidak semeriah seperti ekspektasi saya. Padahal kan disini banyak yang kristiani, jadi saya pikir perayaan natal akan meriah. Ternyata… Semua berjalan dengan sederhana. Saya sempat rindu sekali dengan suasana natal di Jakarta, betapa semua orang begitu menantikan hari natal. Namun, kesederhanaan ini juga turut mencerminkan kesederhanaan Dia yang lahir di dunia ini. Dulu Tuhan Yesus juga lahir tanpa dipestakan kan? Ah, tapi tetap saja, saya kangen natalan di jakarta atau di semarang, dan yang lebih penting lagi, bersama keluarga.

Tahun baru juga sama saja. Tidak ada acara yang diadakan di pemerintah kota. Awalnya saya berpikir akan ada perayaan tahun baru kota maumere. Ternyata… Silahkan merayakan di rumah masing-masing. Jengjeng. Untung kami diundang untuk tahun baruan bersama dengan keluarga kerabatnya ayah teman saya. Datanglah kami, demi makan-makan dan mencoba membuat tahun baruan yang berkesan. Cukup menyenangkan. Keluarga tersebut sangat welcome dan superduper ramah. Kami menyaksikan kembang api (karena kembang api yang kami beli ketinggalan di rumah) dari lantai dua rumah tersebut. Sebnarnya saya memang tidak pernah melewatkan malam tahun baru secara istimewa, karena mostly saya lalui dengan tidur. Mentok-mentok nonton perayaan tahun baru di televisi. Akan tetapi, lagi-lagi saya rindu dengan keluarga.

Januari 2013. Semua berjalan dengan biasa, monoton, diselingi dengan kebosanan. Ini bukan masalah orang-orang yang jahat atau menyebalkan. Jujur, disini orang-orang sangat ramah. Tidak ada yang pernah berkata kasar dengan saya. Semua berlaku baik, bahkan terlalu baik, sampai ada yang memasok ikan tongkol segede gambreng, mengirim kue, jagung rebus, hingga es buah. Untuk urusan makan, semua terpenuhi. *Pasangsenyumlebar*. Cuma ya itu. Ternyata, susah juga menghilangkan kebosanan. Saya terbiasa dengan melakukan banyak hal dari buka mata sampai tutup mata, even itu cuma nongkrong di starbucks sambil menyeruput kopi hitam. At least, ada yang saya lakukan. Mungkin ini sedang masa menyesuaikan diri dengan ritme hidup yang lambat. Lebih banyak menunda pekerjaan supaya besok ada yang dikerjakan. Mungkin sebentar lagi saya sudah terbiasa dengan hidup begini. Semoga.

Hmm… Ternyata beginilah hidup disini. Ternyata…

 

Tepat dua bulan

Maumere, 2013

Advertisements

2 thoughts on “Cerita internship: TERNYATA…

Add yours

  1. mba, kos kosan di maumere, sebulan rata rata berapa mba? saya ada rencana kerja di sana tapi masih cari info keadaan dan situasi di sana. untuk pasokan listrik dan air juga seperti apa ya mba?

    1. Hai! Kalau range harga kos2an bervariasi ya, tergantung fasilitasnya. Kalau hny sekedar kamar tanpa ac sepertinya sekitar 200-300rb, tapi kl yg lbh lengkap (ac, kmr mandi dlm) bisa sampai 750rb. Setahun tinggal disana, pasokan listrik dan air lancar kok. 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: